makna-lagu-r-i-p-playboy-carti

Makna Lagu R.I.P. – Playboy Carti

Makna Lagu R.I.P. – Playboy Carti. Di tahun 2026, “R.I.P.” milik Playboi Carti bersama The Weeknd masih sering muncul di playlist rage, night drive, dan diskusi penggemar sebagai salah satu trek paling atmosferik dari album Whole Lotta Red (2020). Dengan produksi Maaly Raw dan Ojivolta yang gelap—synth dingin, 808 berat, hi-hat cepat, serta ruang kosong yang sengaja dibuat—lagu ini terasa seperti perpaduan sempurna antara trap dan dark R&B. Meskipun liriknya minimalis dan repetitif, “R.I.P.” berhasil menciptakan aura misterius yang kuat. Makna lagu ini berlapis: di permukaan adalah perayaan gaya hidup rockstar yang destruktif dan tak terkendali, tapi lebih dalam ia bicara tentang kematian simbolis—kematian ego lama, kematian hubungan, atau bahkan kematian bagian diri yang “normal” demi menjadi sosok baru yang lebih gelap dan tak terjangkau. Judul “R.I.P.” bukan sekadar gimmick, melainkan pernyataan bahwa Carti sudah “mati” sebagai orang biasa dan lahir kembali sebagai vampir atau rockstar nocturnal. REVIEW KOMIK

Perayaan Gaya Hidup Destruktif dan Rockstar Chaos: Makna Lagu R.I.P. – Playboy Carti

Di lapisan paling jelas, “R.I.P.” adalah anthem pesta malam yang liar dan tanpa batas. Carti mengulang “R.I.P., R.I.P.” seperti mantra, disertai bar seperti “I just spent a bag on a bitch, R.I.P.” dan “Pop a pill, feel like I’m dead, R.I.P.” yang langsung menggambarkan siklus kemewahan dan kehancuran diri: belanja besar-besaran, narkoba, perempuan, dan hidup tanpa rem. Ada rasa euforia dalam pengulangan itu—seolah Carti bilang bahwa hidupnya sudah terlalu jauh untuk kembali normal, dan ia malah merayakannya. The Weeknd melengkapi dengan verse yang lebih melankolis tapi tetap gelap, menambah kontras antara suara baby voice Carti yang imut dan lirik yang keras. Bagi pendengar, bagian ini adalah escapism total: membayangkan diri berada di posisi yang sama, pesta nonstop, menghabiskan uang tanpa mikir besok, dan tidak peduli konsekuensi. Repetisi “R.I.P.” jadi seperti toast untuk gaya hidup yang membakar diri sendiri demi sensasi sesaat.

Kematian Simbolis dan Transformasi Diri: Makna Lagu R.I.P. – Playboy Carti

Di balik pesta dan flexing, “R.I.P.” menyimpan tema kematian simbolis yang jauh lebih dalam. Carti sering menggunakan “R.I.P.” bukan hanya untuk orang lain, tapi juga untuk dirinya sendiri—kematian versi lama yang biasa, yang patuh norma, yang masih peduli opini orang. Bar seperti “I died and came back” atau pengulangan “R.I.P. to the old me” menyiratkan transformasi radikal: setelah ketenaran dan gaya hidup ekstrem, Carti merasa sudah bukan manusia biasa lagi. Ia “mati” sebagai Jordan Carter dan “hidup kembali” sebagai Playboi Carti—sosok yang hidup di malam hari, haus perhatian dan kekuasaan, tapi juga kehilangan koneksi emosional yang autentik. Ada rasa kesepian yang tersirat di balik suara yang penuh energi: pesta ramai, tapi Carti tetap sendirian di dalam tank atau armor barunya. Produksi yang dingin dan atmosferik memperkuat perasaan ini—seperti pemakaman yang megah tapi sepi, di mana kematian lama dirayakan dengan pesta besar. Lagu ini jadi potret artis yang rela “membunuh” bagian dirinya demi menjadi legenda, tapi juga mulai merasakan harganya.

Pengaruh Budaya dan Vibe yang Abadi

“R.I.P.” bukan hanya lagu, tapi pernyataan estetika yang membentuk gelombang rage dan vamp hingga sekarang. Di tahun 2026, tema kematian simbolis, pesta destruktif, dan transformasi diri masih terasa kuat di musik underground maupun mainstream—banyak artis muda mengadopsi beat gelap, ad-lib berlapis, dan sikap “R.I.P. to the old me” sebagai bagian identitas. Lagu ini sering dipakai sebagai soundtrack momen “glow up” gelap, night drive, atau edit video yang ingin terasa intens dan tak terjangkau. Secara budaya, “R.I.P.” mewakili generasi yang merangkul kegelapan sebagai bentuk kekuatan—bukan takut kematian, tapi memeluknya sebagai kelahiran kembali. Pengulangan yang obsesif dan produksi yang dingin membuat lagu ini mudah diingat dan sulit dilupakan, menjadikannya salah satu anthem paling ikonik dari era Whole Lotta Red.

Kesimpulan

“R.I.P.” tetap relevan karena maknanya sederhana tapi dalam: perayaan gaya hidup destruktif yang penuh kemewahan, sekaligus kematian simbolis dari versi diri yang lama demi lahir kembali sebagai sosok yang lebih kuat tapi lebih terisolasi. Carti menyampaikannya dengan cara paling efektif—pengulangan, vibe gelap, dan delivery yang magnetis—sehingga pendengar ikut merasakan sensasi “mati dan hidup kembali” itu sendiri. Di tahun 2026, ketika banyak orang masih mencari cara melepaskan masa lalu dan membangun identitas baru, lagu ini jadi pengingat bahwa transformasi besar sering datang dengan harga: pesta megah tapi sepi, kekuasaan tapi kesepian. Bagi sebagian orang, “R.I.P.” hanyalah lagu asyik untuk malam hari; bagi yang lain, ia adalah cermin tentang bagaimana ketenaran bisa membuat seseorang “mati” sebagai manusia biasa dan hidup abadi sebagai legenda—dingin, tak tersentuh, tapi juga tak lagi utuh. Itulah mengapa lagu ini masih hidup dan terus menginspirasi: ia tidak hanya terdengar berat, tapi juga terasa sangat jujur dalam kegelapannya.

BACA SELENGKAPNYA DI…

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *